Hallooo, halloooo. Selamat Malam semuaa, selamat males-malesan karna besok hari Senin. J
Gue bawa cerpen pertama gue, bukan pertama juga sih, dulu pernah ada cerpen yang dipublish tapi gue hapus :D dan kaliaaan tau kan disini banyak typo nya dan kata-katanya juga masih ancur, jadi mohon tinggalkan kritik dan saran yah :)
kalo mau copas sertakan sumber pleaaseee :D (ngarep banget ini)
15.30,
12 Juni 2009
Dihari
itu, aku masih menunggu dia yang tak kunjung datang. Hujan deras sedang
membungkus kota kembang saat itu. Aku duduk termanggu dimeja yang terletak dekat
dengan kaca. Ku edarkan pandangan keluar, berharap sosok yang kutunggu datang. Dengan
ditemani hot chocolate yang mulai mendingin,
aku berharap dia datang menemui janjinya.
Dan sosok yang kutunggu pun
datang. Aku lihat dia sedang berada
disebrang jalan sana dengan payung yang membuatnya terlihat lucu. Dia berlari
tergesa-gesa. Aku tersenyum, ternyata
dia menepati janjinya.
“Apa
aku terlambat?”Dia bertanya dengan nafas tak karuan.
“Hhh~
kakak terlambat 30 menit”
“Maafkan
aku, hujan begitu deras, aku menunggu hujan mereda.”
“Okelah
aku mengerti, sebenarnya apa yang ingin kakak bicarakan?”Aku tak sabar menunggu
jawaban dari pria yang ku panggil ‘kakak’ itu.
“Sebenarnya…
Hhhhh…”Dia belum selesai melanjutkan kata-katanya, lalu mengambil nafas
dalam-dalam. “Aku akan melanjutkan kuliah di Amerika.”
Seketika
suasana menjadi hening, ditambah pengunjung café yang hanya sedikit.
“Besok
aku berangkat, penerbangan jam 09.00 kuharap kau berada disana.”Lanjutnya
“Tapi
mengapa mendadak sekali, mengapa kakak tak mengatakannya jauh-jauh hari?”
“Maafkan
aku. Aku akan kembali 3-4 tahun lagi”
“Tapi, waktu 3-4 tahun itu bukan waktu
yang cepat kak.”Aku meninggalkannya yang masih duduk termanggu, berjalan keluar
café. Lalu berlari sekencang-kencangnyya tak peduli derasnya hujan yang
mengguyur.
***
Aku
memandang fotoku bersamanya, saat itu aku masih kelas X, dan dia kelas XI. Dua
bulan setelah dia menyelamatkanku dari hal yang memalukan. Yang akhirnya
membuat kita berteman. Walau aku menganggapnya lebih dari sekedar ‘teman’ dan
‘kakak’.
“Mengapa
kau tak keBandara, Malvin pasti menunggumu.”
“Itu membuatku berat melepaskannya, Sa”Aku
beranjak dari tempatku, membaringkan tubuhku kekasur.
“Ah~
Kau ini terlalu berlebihan Hana, dia hanya pergi 3-4 tahun. Setahun lagi kita
akan lulus bukan, kau juga akan belajar
di Universitas, kau akan melupaknnya dengan tugas. Dewasalah Hana”Azusa berkata
panjang nan lebar. Apa yang dia katakana memang benar.
Dengan
sigap, ku ambil kunci mobilku dan bergegas melajukan motorku. Ku lirik arloji
yang melingkar ditangan kiriku, jam 08.50. Aku hanya punya waktu 10 menit lagi, dengan jarak yang lumayan jauh.
Pikiranku kacau. Aku takut dia meninggalkanku. Aku menyayanginbya, lebih.
Setidaknya disaat seperti ini aku bisa memeluknya, -untuk terakhir kali.
Arlojiku
menunjukan waktu jam 08.59, aku berada depan Bandara. Ku parkirkan motorku, lalu
berlari kedalam Bandara. Ku edarkan pandanganku, mencari sosoknya. Berlari
lagi. Lalu ku temukan dia, yang sedang berdiri disudut bandara,
menungguku-mungkin-. Aku berlari, memeluknya.
“Kakak”Kupeluk
ia erat. Berat rasanya, sampai butiran Kristal ini jatuh dari pelupuk mataku.
“Hime-sama,
aku tak akan meninggalkanmu sungguh. Tunggulah aku, aku menyayangimu.”Ia
mempererat pelukannya.
“Aku
juga menyayangimu.” Kulepaskan pelukannya. Berusaha menarik bibirku untuk
tersenyum.
“Hey
hey, senyumlah. Bukankah sekarang kemajuan teknologi semakin pesat? Aku bisa
mengirim E-Mail padamu, atau aku juga bisa mengirim pesan lewat Social Media.”Katanya, lalu mengecupku.
Menyungginkan senyuman, ah senyuman itu! Senyuman yang membuatku jatuh cinta
padanya.
“Aku
mengerti, jaga dirimu baik-baik. Jangan genit! Jangan lupa menggosok gigi. Kau
kerap sekali melupaknnya.”Aku bernasihat, ckck lebih tepat menggodanya.
“Oii
oii, aku tidak akan lupa. Jaga dirimu baik-baik juga. Aku menyayangimu. Aku
pergi”Ia melepaskan tanganku. Lalu tersenyum.
“Aku
juga menyayangimu”
Ia
membalikan badannya. Lalu melangkah pergi menjauhiku. Aku memandangi
punggungnya yang semakin mengecil dan jauh. Tersenyum, berat sekali rasanya.
Aku meninggalkan bandara dengan hati berat. Sepanjang jalan menuju rumah, tak
hentinya aku menghibur diriku sendiri. Dia akan kembali. Aku yakin, dia tidak
akan melanggar janjinya. Aku percaya padanya.
14.20, 06 Desember 2009
Hari
ini, hari ulang tahunku yang ke-17. Terasa hampa memang, tanpanya. Terasa sepi
dibanding tahun kemarin. Tak ada kejutan yang membuatku exciting. Tapi untungnya aku punya sahabat-sahabt terbaikku, mereka
mengerti bagaimana keadaanku. Aku tau ini sudah berlalu selama 5bulan lebih. Ah
entahlah aku tak mengerti.
“Tadaaaa,
ini kado untukmu. Besar bukan? Ini mahal kok wkwk.”Azusa menggodaku,
menghiburku.
“Wkwkwk,
apa-apaan kau ini.”Aku tertawa, dan menjitak kepalanya.
“Aw
aw, jahat sekali kau ini”
“Oii
Oii, aku bawa kado untukmu Hanaa”Teriak Rossetta.
“Hey
kau ini dekat begini pakai teriak segala.”Aku mendengus kesal.
“Maaf
maaf, aku terlalu senang. Ini kado untukmu. Oh ya, Gabriel,Ken, Nami, dan Odit
sedang menyusul kesini, mungkin mereka sedang memilih kado. “Jelas Setta.
“Kenapa
mereka repot-repot, Ulang Tahunku tidak dirayakan bukan?”
“Oiiiiii”
“Hey
kalian, mengapa repot-repot datang kesini?”Aku merasa tak enak, aku tau ini
Ulang Tahunku, ah tapi…
Pletaakk. Jitakan indah odit pun meluncur tepat didahiku yang
lebar ini. Sakitnya.
“Ya~
uh sakit ini”Aku mengeluh.
“Kau
ini kita datang bukannya disambut”Gabriel mendengus, meletakan kadonya dimeja.
“Maafkan,
aku merasa tidak enak saja.”
“Tak
usah begitu.”Ken mengacak-ngacak poniku.
“Tadaaaa”Ken,
Nami, dan Odit memamerkan kado untukku.
“Terima
kasih, Kawan”Aku memeluk mereka.
Kami
pun terhanyut dalam suasana canda dan tawa. Ckck
14.30, 10 Oktober 2013
Hari
berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Empat tahun berlalu…
Terkadang
aku bertanya-tanya apa penantianku akan sia-sia? Entahlah, tak ada yang bisa
menjawab dengan tepat. Empat tahun ini, kulalui tanpa dirinya. Hampa. Tak
seindah dulu memang, untungnya aku punya teman-teman sebaik mereka. Walaupun
begitu aku bisa menyelesaikan Ujian Akhir Nasionalku, tes masuk Universitas,
bahkan skripsi dan sidang akhirku berjalan lancar.
Hari
ini, seperti biasa sepulang kerja, aku mengunjungi perpustakaan. Mencari buku
untuk menambah wawasanku. Tadinya
aku ingin membeli buku, ah tapi apalah isi dompet seorang editor baru
sepertiku? Ya. Aku bekerja disebuah percetakan cukup ternama di Kotaku,
terkadang aku juga bekerja sebagai penerjemaah. Walaupun kuliah mengambil
jurusan Pendidikan dan Sastra Bahasa Indonesia, tapi kemampuan bahasa Inggrisku
hampir setara dengan orang-orang yang kuliah mengambil Jurusan Bahasa Inggris.
Aku
menyusuri setiap sudut ruangan Perpustakaan ini, sepi. Ah sayang sekali, minat
membaca dikalangan muda sepertiku tipis sekali. Bahkan hampir ‘punah’. Akhirnya
aku menemukan buku yang kucari. Aku mengambil tiga buku bertemakan Agama.
“Ini
mbak”Aku memberikan buku dasn Id Card perpustakaanku kepada penjaga
perpustakaan
“Mbak
sering sekali kesini”Ia tersenyum, mengantongi bukunya lalu memberikannya padaku.
Aku menjawabnya dengan senyuman. Lalu melangkah pergi menjauhi perpustakaan.
Aku
melangkah dengan malasnya. Hhh~. Lelah sekali hari ini. Kerjaan dikantor
berjibun.
“Hana”Teriak
seorang. Aku menoleh kebelakang. Dia yang memanggilku berlari-lari kecil
kearahku lalu memelukku. Ckck~ seperti anak kecil
“Nami…”
“Hanaaa , long time no see”
“Haha,
aku merindukanmu, diantara kita kau memang paling sibuk. Wkwk~”
“Sibuk
apanya, ini karna aku sedang memperisapkan pernikahanku.”Cerita Nami, seketika
pipinya memerah
“Bisnismu?
Wah kau akan menikah muda. Selamat, ckck~.”Aku merangkulnya, member selamat.
“Ah
tidak, bulan November nanti aku berusia 22. Maksudmu café-ku? Lancar-lancar saja. Emm, apa kamu sudah bertemu Kak
malvin?”
“Belum,
satu tahun ini kami lost contact. Dia
belum mengabariku.”
“Iyakah?
Bulan lalu aku, ah entah bulan apa, aku melihatnya di café-ku.”
“Kau
salah lihat mungkin.”
“Masa
iya? Dia seperti Kak Malvin. Dia tinggi, matanya, dan dagunya ah mirip
sekali. Dia bahkan terlihat dewasa,
berpakaian rapih. Emm, sepertinya dia bertemu dengan client, atau entahlah, apa mungkin Kak Malvin seorang Manager? Ah
Directur mungkin.”Jelas Nami, panjang dikali lebar dikali tinggi-_-. Aku hanya
menanggapinya dengan senyuman, pahit.
***
Sejak
kemarin, aku terus memikirkannya. Ah apa benar dia ada disini? Lalu mengapa tak
mencariku? Apa dia tak merindukanku? Aku merindukannya, sungguh merindukannya.
Jika kita bertemu lagi, apa kita jodoh? Mungkin.
Aku
menyusuri jalan pagi yang basah, bekas hujan kemarin. Bau tanah sehabis hujan
melekat dihidungku. Suasana pagi yang tentram dan dingin yang menusuk kulitku.
Entah mengapa dingin sekali, padahal mantelku cukup tebal.
Dipersimpangan
jalan, aku melihatnya.. benar aku melihatnya, punggungnya yang tegap tentu aku
mengenalinya kita berjalan satu arah, hanya saja dia berjarak jauh denganku dan
aku kehilangan jejaknya. Oh Tuhan, apa itu kak Malvin? Benar kata Nami. Kak
Malvin banyak berubah, dia terlihat dewasa. Jantugku berdegup kencang.
***
“Selamat pagi”Pegawai ramah itu
tersenyum padaku
“Pagi”Aku
membalas.
Aku
melihat-lihat buku yang berjajar rapih, dan mengambilnya satu. Ketika sedang
seriusnya aku membaca buku, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku
memutar badanku. Dan kau tahu? Betapa terkejutnya aku orang itu adalah kak
Malvin. Aku memeluknya erat, begitupun dia.
“Kak,
kemana saja kau ini. Aku merindukanmu!”Ucapku seraya memukul pelan dadanya.
Bidang.
“Kau
tambah tinggi, seperti biasa, kau cantik. Aku merindukanmu”
Cup.
Dia mengecupku. Oh Tuhan.
“Tidak
menghubungiku, lost contact selama setahun terakhir ini. Bahkan ketika
pulang, kau tidak memberitahuku sama-sekali!”Aku menegurnya dengan suara kecil.
Karena ini perpustakaan.
“Maafkan
aku, Hime-sama. Sebenarnya aku ingin membuatkanmu kejutan. Aku merindukanmu
sungguh. Aku menyayangimu. Kau tahu? Selama 4 tahun yang kulalu tanpamu berat
sekali, tapi aku menjalaninya dengan kesabaran. Kau pernah bertanya kenapa
tidak mengambil libur saja? Itu karena kau ingin segera lulus dan pulang untuk
melamarmu.”
“A
aa apa?”Aku gelagapan.
“M-E-L-A-M-A-R-M-U.
Sebeneranya aku sudah pulang dari dua bulan yang lalu. Tapi maafkan aku,
mungkin karena terlalu sibuk mengurusi perusahaan. Mereka menuntutku seperti
robot.”
“Aku
masih terlalu muda untuk itu. Wkwk. Jadi benar yang dilihat name di café-nya
itu?”
“Setahun
lagi, ayo kita rencanakan dari sekarang. Benar, kau tahu bukan kenapa aku tidak
beritahu Nami.”
“Ayo,
aku siap. Kita akan menikah setelah Nami. Wkwk”
“Dia
akan menikah? Kapan?”
“1
November nanti.”
“Yaampun
sebentar lagi, ayo kita kado untuknya”
Aku
dan kak Malvin berjalan meninggalkan perpustakaan dengan bergandengan tangan.
10.30 1 November 2013
Hari
terindah untuk Nami dan Ken. Dua sahabtku yang ini, mereka resmi menjadi
sepasang suami-istri. Sahabat terindahku datang ke pernikahan mereka. Azusa
dengan sniornya yang kini menjadi pacarnya mereka baru 2 minggu, Rosetta dan
Gabriel, Odit? Dia dengan kakak kembarnya Gabriel. Senang rasanya
sahabat-sahabatku memliliki pasangan, mereka terlihat serasi.
Aku
duduk dengan kak Malvinku dan tak lupa sahabat-sahabt terbaikku.
“Ketika
menikah nanti, aku ingin memakai gaun biru muda. Indah sekali dengan aksen
bunga. Dan sebuket eidelweis, ditengah taman yangdipenuhi bunga-bunga indah dan
suasana yang sejuk.”aku bergumam.
“Kau
akan mendapatkannya ketika menikah denganku.”
“Really?”Aku
tersenyum sumringah.
“Yes,
really. Cincin indah akan melingkar dengan indah dijari manismu.”Kak malvin
menggenggam tanganku dasn mengecupnya.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
No Bashing! ;)