Minggu, 16 November 2014

Waiting Just For You (cerpen)

Hallooo, halloooo. Selamat Malam semuaa, selamat males-malesan karna besok hari Senin. J
Gue bawa cerpen pertama gue, bukan pertama juga sih, dulu pernah ada cerpen yang dipublish tapi gue hapus :D dan kaliaaan tau kan disini banyak typo nya dan kata-katanya juga masih ancur, jadi mohon tinggalkan kritik dan saran yah :)
kalo mau copas sertakan sumber pleaaseee :D (ngarep banget ini)




15.30, 12 Juni 2009
      Dihari itu, aku masih menunggu dia yang tak kunjung datang. Hujan deras sedang membungkus kota kembang saat itu. Aku duduk termanggu dimeja yang terletak dekat dengan kaca. Ku edarkan pandangan keluar, berharap sosok yang kutunggu datang. Dengan ditemani hot chocolate yang mulai mendingin, aku berharap dia datang menemui janjinya.
Dan sosok yang kutunggu pun datang. Aku lihat dia  sedang berada disebrang jalan sana dengan payung yang membuatnya terlihat lucu. Dia berlari tergesa-gesa. Aku tersenyum,  ternyata dia menepati janjinya.

      “Apa aku terlambat?”Dia bertanya dengan nafas tak karuan.
      “Hhh~  kakak terlambat 30 menit”
      “Maafkan aku, hujan begitu deras, aku menunggu hujan mereda.”
      “Okelah aku mengerti, sebenarnya apa yang ingin kakak bicarakan?”Aku tak sabar menunggu jawaban dari pria yang ku panggil ‘kakak’ itu.
      “Sebenarnya… Hhhhh…”Dia belum selesai melanjutkan kata-katanya, lalu mengambil nafas dalam-dalam. “Aku akan melanjutkan kuliah di Amerika.”
      Seketika suasana menjadi hening, ditambah pengunjung café yang hanya sedikit.
      “Besok aku berangkat, penerbangan jam 09.00 kuharap kau berada disana.”Lanjutnya
      “Tapi mengapa mendadak sekali, mengapa kakak tak mengatakannya jauh-jauh hari?”
      “Maafkan aku. Aku akan kembali 3-4 tahun lagi”
      “Tapi, waktu 3-4 tahun itu bukan waktu yang cepat kak.”Aku meninggalkannya yang masih duduk termanggu, berjalan keluar café. Lalu berlari sekencang-kencangnyya tak peduli derasnya hujan yang mengguyur.
***

      Aku memandang fotoku bersamanya, saat itu aku masih kelas X, dan dia kelas XI. Dua bulan setelah dia menyelamatkanku dari hal yang memalukan. Yang akhirnya membuat kita berteman. Walau aku menganggapnya lebih dari sekedar ‘teman’ dan ‘kakak’.
      “Mengapa kau tak keBandara, Malvin pasti menunggumu.”
       “Itu membuatku berat melepaskannya, Sa”Aku beranjak dari tempatku, membaringkan tubuhku kekasur.
      “Ah~ Kau ini terlalu berlebihan Hana, dia hanya pergi 3-4 tahun. Setahun lagi kita akan lulus bukan, kau  juga akan belajar di Universitas, kau akan melupaknnya dengan tugas. Dewasalah Hana”Azusa berkata panjang nan lebar. Apa yang dia katakana memang benar.
      Dengan sigap, ku ambil kunci mobilku dan bergegas melajukan motorku. Ku lirik arloji yang melingkar ditangan kiriku, jam 08.50. Aku hanya punya waktu 10 menit  lagi, dengan jarak yang lumayan jauh. Pikiranku kacau. Aku takut dia meninggalkanku. Aku menyayanginbya, lebih. Setidaknya disaat seperti ini aku bisa memeluknya, -untuk terakhir kali.
      Arlojiku menunjukan waktu jam 08.59, aku berada depan Bandara. Ku parkirkan motorku, lalu berlari kedalam Bandara. Ku edarkan pandanganku, mencari sosoknya. Berlari lagi. Lalu ku temukan dia, yang sedang berdiri disudut bandara, menungguku-mungkin-. Aku berlari, memeluknya.
      “Kakak”Kupeluk ia erat. Berat rasanya, sampai butiran Kristal ini jatuh dari pelupuk mataku.
      “Hime-sama, aku tak akan meninggalkanmu sungguh. Tunggulah aku, aku menyayangimu.”Ia mempererat pelukannya.
      “Aku juga menyayangimu.” Kulepaskan pelukannya. Berusaha menarik bibirku untuk tersenyum.
      “Hey hey, senyumlah. Bukankah sekarang kemajuan teknologi semakin pesat? Aku bisa mengirim E-Mail padamu, atau aku juga bisa mengirim pesan lewat Social Media.”Katanya, lalu mengecupku. Menyungginkan senyuman, ah senyuman itu! Senyuman yang membuatku jatuh cinta padanya.
      “Aku mengerti, jaga dirimu baik-baik. Jangan genit! Jangan lupa menggosok gigi. Kau kerap sekali melupaknnya.”Aku bernasihat, ckck lebih tepat menggodanya.
      “Oii oii, aku tidak akan lupa. Jaga dirimu baik-baik juga. Aku menyayangimu. Aku pergi”Ia melepaskan tanganku. Lalu tersenyum.
      “Aku juga menyayangimu”
      Ia membalikan badannya. Lalu melangkah pergi menjauhiku. Aku memandangi punggungnya yang semakin mengecil dan jauh. Tersenyum, berat sekali rasanya. Aku meninggalkan bandara dengan hati berat. Sepanjang jalan menuju rumah, tak hentinya aku menghibur diriku sendiri. Dia akan kembali. Aku yakin, dia tidak akan melanggar janjinya. Aku percaya padanya.
14.20, 06 Desember 2009
      Hari ini, hari ulang tahunku yang ke-17. Terasa hampa memang, tanpanya. Terasa sepi dibanding tahun kemarin. Tak ada kejutan yang membuatku exciting. Tapi untungnya aku punya sahabat-sahabt terbaikku, mereka mengerti bagaimana keadaanku. Aku tau ini sudah berlalu selama 5bulan lebih. Ah entahlah aku tak mengerti.
      “Tadaaaa, ini kado untukmu. Besar bukan? Ini mahal kok wkwk.”Azusa menggodaku, menghiburku.
      “Wkwkwk, apa-apaan kau ini.”Aku tertawa, dan menjitak kepalanya.
      “Aw aw, jahat sekali kau ini”
      “Oii Oii, aku bawa kado untukmu Hanaa”Teriak Rossetta.
      “Hey kau ini dekat begini pakai teriak segala.”Aku mendengus kesal.
      “Maaf maaf, aku terlalu senang. Ini kado untukmu. Oh ya, Gabriel,Ken, Nami, dan Odit sedang menyusul kesini, mungkin mereka sedang memilih kado. “Jelas Setta.
      “Kenapa mereka repot-repot, Ulang Tahunku tidak dirayakan bukan?”
       “Oiiiiii”
      “Hey kalian, mengapa repot-repot datang kesini?”Aku merasa tak enak, aku tau ini Ulang Tahunku, ah tapi…
      Pletaakk. Jitakan  indah odit pun meluncur tepat didahiku yang lebar ini. Sakitnya.
      “Ya~ uh sakit ini”Aku mengeluh.
      “Kau ini kita datang bukannya disambut”Gabriel mendengus, meletakan kadonya dimeja.
      “Maafkan, aku merasa tidak enak saja.”
      “Tak usah begitu.”Ken mengacak-ngacak poniku.
      “Tadaaaa”Ken, Nami, dan Odit memamerkan kado untukku.
      “Terima kasih, Kawan”Aku memeluk mereka.
      Kami pun terhanyut dalam suasana canda dan tawa. Ckck
14.30, 10 Oktober 2013
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Empat tahun berlalu…
      Terkadang aku bertanya-tanya apa penantianku akan sia-sia? Entahlah, tak ada yang bisa menjawab dengan tepat. Empat tahun ini, kulalui tanpa dirinya. Hampa. Tak seindah dulu memang, untungnya aku punya teman-teman sebaik mereka. Walaupun begitu aku bisa menyelesaikan Ujian Akhir Nasionalku, tes masuk Universitas, bahkan skripsi dan sidang akhirku berjalan lancar.
      Hari ini, seperti biasa sepulang kerja, aku mengunjungi perpustakaan. Mencari buku untuk menambah wawasanku.       Tadinya aku ingin membeli buku, ah tapi apalah isi dompet seorang editor baru sepertiku? Ya. Aku bekerja disebuah percetakan cukup ternama di Kotaku, terkadang aku juga bekerja sebagai penerjemaah. Walaupun kuliah mengambil jurusan Pendidikan dan Sastra Bahasa Indonesia, tapi kemampuan bahasa Inggrisku hampir setara dengan orang-orang yang kuliah mengambil Jurusan Bahasa Inggris.
      Aku menyusuri setiap sudut ruangan Perpustakaan ini, sepi. Ah sayang sekali, minat membaca dikalangan muda sepertiku tipis sekali. Bahkan hampir ‘punah’. Akhirnya aku menemukan buku yang kucari. Aku mengambil tiga buku bertemakan Agama.
      “Ini mbak”Aku memberikan buku dasn Id Card perpustakaanku kepada penjaga perpustakaan
      “Mbak sering sekali kesini”Ia tersenyum, mengantongi bukunya lalu memberikannya padaku. Aku menjawabnya dengan senyuman. Lalu melangkah pergi menjauhi perpustakaan.
      Aku melangkah dengan malasnya. Hhh~. Lelah sekali hari ini. Kerjaan dikantor berjibun.
      “Hana”Teriak seorang. Aku menoleh kebelakang. Dia yang memanggilku berlari-lari kecil kearahku lalu memelukku. Ckck~ seperti anak kecil
      “Nami…”
      “Hanaaa     , long time no see”
      “Haha, aku merindukanmu, diantara kita kau memang paling sibuk. Wkwk~”
      “Sibuk apanya, ini karna aku sedang memperisapkan pernikahanku.”Cerita Nami, seketika pipinya memerah
      “Bisnismu? Wah kau akan menikah muda. Selamat, ckck~.”Aku merangkulnya, member selamat.
      “Ah tidak, bulan November nanti aku berusia 22. Maksudmu café-ku? Lancar-lancar saja. Emm, apa kamu sudah bertemu Kak malvin?”
      “Belum, satu tahun ini kami lost contact. Dia belum mengabariku.”
      “Iyakah? Bulan lalu aku, ah entah bulan apa, aku melihatnya di café-ku.”
      “Kau salah lihat mungkin.”
      “Masa iya? Dia seperti Kak Malvin. Dia tinggi, matanya, dan dagunya ah mirip sekali.  Dia bahkan terlihat dewasa, berpakaian rapih. Emm, sepertinya dia bertemu dengan client, atau entahlah, apa mungkin Kak Malvin seorang Manager? Ah Directur mungkin.”Jelas Nami, panjang dikali lebar dikali tinggi-_-. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman, pahit.
***
      Sejak kemarin, aku terus memikirkannya. Ah apa benar dia ada disini? Lalu mengapa tak mencariku? Apa dia tak merindukanku? Aku merindukannya, sungguh merindukannya. Jika kita bertemu lagi, apa kita jodoh? Mungkin.
      Aku menyusuri jalan pagi yang basah, bekas hujan kemarin. Bau tanah sehabis hujan melekat dihidungku. Suasana pagi yang tentram dan dingin yang menusuk kulitku. Entah mengapa dingin sekali, padahal mantelku cukup tebal.
      Dipersimpangan jalan, aku melihatnya.. benar aku melihatnya, punggungnya yang tegap tentu aku mengenalinya kita berjalan satu arah, hanya saja dia berjarak jauh denganku dan aku kehilangan jejaknya. Oh Tuhan, apa itu kak Malvin? Benar kata Nami. Kak Malvin banyak berubah, dia terlihat dewasa. Jantugku berdegup kencang.
***
      “Selamat pagi”Pegawai ramah itu tersenyum padaku
      “Pagi”Aku membalas.
      Aku melihat-lihat buku yang berjajar rapih, dan mengambilnya satu. Ketika sedang seriusnya aku membaca buku, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku memutar badanku. Dan kau tahu? Betapa terkejutnya aku orang itu adalah kak Malvin. Aku memeluknya erat, begitupun dia.
      “Kak, kemana saja kau ini. Aku merindukanmu!”Ucapku seraya memukul pelan dadanya. Bidang.
      “Kau tambah tinggi, seperti biasa, kau cantik. Aku merindukanmu”
      Cup. Dia mengecupku. Oh Tuhan.
      “Tidak menghubungiku, lost contact selama setahun terakhir ini. Bahkan ketika pulang, kau tidak memberitahuku sama-sekali!”Aku menegurnya dengan suara kecil. Karena ini perpustakaan.
      “Maafkan aku, Hime-sama. Sebenarnya aku ingin membuatkanmu kejutan. Aku merindukanmu sungguh. Aku menyayangimu. Kau tahu? Selama 4 tahun yang kulalu tanpamu berat sekali, tapi aku menjalaninya dengan kesabaran. Kau pernah bertanya kenapa tidak mengambil libur saja? Itu karena kau ingin segera lulus dan pulang untuk melamarmu.”
      “A aa apa?”Aku gelagapan.
      “M-E-L-A-M-A-R-M-U. Sebeneranya aku sudah pulang dari dua bulan yang lalu. Tapi maafkan aku, mungkin karena terlalu sibuk mengurusi perusahaan. Mereka menuntutku seperti robot.”
      “Aku masih terlalu muda untuk itu. Wkwk. Jadi benar yang dilihat name di café-nya itu?”
      “Setahun lagi, ayo kita rencanakan dari sekarang. Benar, kau tahu bukan kenapa aku tidak beritahu Nami.”
      “Ayo, aku siap. Kita akan menikah setelah Nami. Wkwk”
      “Dia akan menikah? Kapan?”
      “1 November nanti.”
      “Yaampun sebentar lagi, ayo kita kado untuknya”
      Aku dan kak Malvin berjalan meninggalkan perpustakaan dengan bergandengan tangan.
10.30 1 November 2013
      Hari terindah untuk Nami dan Ken. Dua sahabtku yang ini, mereka resmi menjadi sepasang suami-istri. Sahabat terindahku datang ke pernikahan mereka. Azusa dengan sniornya yang kini menjadi pacarnya mereka baru 2 minggu, Rosetta dan Gabriel, Odit? Dia dengan kakak kembarnya Gabriel. Senang rasanya sahabat-sahabatku memliliki pasangan, mereka terlihat serasi.
      Aku duduk dengan kak Malvinku dan tak lupa sahabat-sahabt terbaikku.
      “Ketika menikah nanti, aku ingin memakai gaun biru muda. Indah sekali dengan aksen bunga. Dan sebuket eidelweis, ditengah taman yangdipenuhi bunga-bunga indah dan suasana yang sejuk.”aku bergumam.
      “Kau akan mendapatkannya ketika menikah denganku.”
      “Really?”Aku tersenyum sumringah.
      “Yes, really. Cincin indah akan melingkar dengan indah dijari manismu.”Kak malvin menggenggam tanganku dasn mengecupnya.



THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No Bashing! ;)